KARAWANG - Perkembangan teknologi informasi yang melesat bagaikan anak panah kini mengubah lanskap kehidupan kita secara dramatis. Dari cara kita bertransaksi ekonomi, berkomunikasi, hingga mengakses layanan publik, semuanya telah bertransformasi. Namun, di balik kemudahan itu, terbentang tantangan baru yang tak kalah pelik: maraknya kejahatan siber yang melintasi batas negara, sulit dilacak, dan berpotensi mengoyak fondasi keamanan nasional kita.
Dalam pandangan Kompol Gilang Akbar, S.I.K., seorang perwira yang memahami betul denyut nadi keamanan di ruang digital, Polri dituntut untuk bertransformasi. Ia melihat bahwa institusi penegak hukum ini harus menjadi lebih dari sekadar tangguh secara teknis. Polri harus menjadi agen yang adaptif, mampu merangkul kolaborasi, dan senantiasa berorientasi pada perlindungan masyarakat di ranah maya.
Berbekal pengalaman mengabdi di Polres Karawang, Kompol Gilang memahami bahwa medan pertempuran keamanan kini tak lagi terbatas pada aspal jalanan atau batas-batas fisik semata. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ancaman kini menjalar ke ruang siber, melahirkan bentuk-bentuk kejahatan baru seperti penipuan daring yang licik, peretasan data pribadi yang meresahkan, penyebaran konten ilegal yang merusak, hingga penyalahgunaan transaksi digital yang merugikan. Menurutnya, pendekatan Polri di era digital haruslah seimbang, memadukan ketegasan dalam penindakan dengan sentuhan pencegahan yang edukatif.
Kompol Gilang memaparkan bahwa peran Polri yang paling fundamental adalah deteksi dini dan pencegahan. Ia menjelaskan bagaimana melalui kegiatan cyber patrol, jajaran Polres Karawang mampu memantau aktivitas daring, mengidentifikasi akun-akun yang berpotensi mencurigakan, serta mendeteksi ancaman sebelum sempat menimbulkan kerugian bagi masyarakat. “Pendekatan preventif ini sejalan dengan semangat Polri Presisi, yaitu prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan, ” ujarnya, menekankan betapa pentingnya antisipasi sebelum sebuah masalah terjadi dan harus ditindak.
Lebih jauh, Kompol Gilang menyoroti urgensi penegakan hukum yang dibekali keahlian digital dan forensik siber. Ia sadar betul bahwa pelaku kejahatan siber sering kali bersembunyi di balik tabir teknologi enkripsi dan transaksi kripto yang rumit. Oleh karena itu, Kompol Gilang berpendapat bahwa penyidik Polri harus dibekali dengan kemampuan analisis digital yang mendalam, kemampuan melacak jejak elektronik dengan presisi, serta jalinan kolaborasi yang kuat antarlembaga, bahkan lintas negara. “Kecepatan teknologi harus diimbangi dengan kecerdasan aparat. Penegakan hukum siber bukan hanya soal menangkap pelaku, tetapi juga menjaga kepercayaan publik terhadap ruang digital, ” tegasnya.
Di samping upaya penindakan, Kompol Gilang menekankan bahwa literasi digital masyarakat adalah kunci utama pertahanan. Ia meyakini bahwa masyarakat yang memiliki pemahaman mendalam tentang keamanan siber akan menjadi benteng pertama yang paling kokoh dalam melawan kejahatan digital. Oleh sebab itu, Polres Karawang terus berupaya aktif dalam mengedukasi masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, kampus, hingga komunitas digital. Sosialisasi ini mencakup bahaya phishing, jebakan investasi palsu, serta pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi. “Semakin tinggi kesadaran digital masyarakat, semakin kuat pula pertahanan sosial terhadap kejahatan siber, ” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Kompol Gilang juga menggarisbawahi betapa vitalnya kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara Polri, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), institusi perbankan, para penyedia platform digital, hingga lembaga internasional sangat diperlukan. Kerjasama ini diyakini mampu mempercepat proses pelacakan pelaku dan memblokir jaringan kriminal siber yang beroperasi lintas wilayah. Ia mencontohkan, kerja sama lintas instansi sering kali menjadi penentu keberhasilan dalam pengungkapan kasus penipuan daring dan kejahatan digital berskala besar.
Dalam perspektif ilmiahnya, Kompol Gilang Akbar menegaskan bahwa keberhasilan penegakan hukum di era digital tidak hanya dapat diukur dari jumlah pelaku yang berhasil ditangkap. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan Polri dalam menciptakan sebuah ekosistem digital yang aman, beretika, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.
“Ruang digital adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Tugas Polri bukan hanya sekadar menindak pelaku kejahatan di dalamnya, tetapi memastikan dunia maya menjadi ruang yang aman untuk tumbuhnya kepercayaan dan kesejahteraan publik, ” tutupnya, menyiratkan harapan besar akan masa depan keamanan digital.
Melalui pandangan Kompol Gilang Akbar ini, Polres Karawang diharapkan terus berdiri tegak sebagai garda terdepan dalam menghadapi segala tantangan cybercrime, baik yang bersifat lokal maupun lintas daerah. Semangat Polri Presisi yang adaptif terhadap teknologi, humanis, dan selalu berpihak pada kepentingan masyarakat luas menjadi kompas dalam setiap langkahnya.

Noer